Minggu, 06 September 2026

Langkah yang Menjauh dan Air Mata yang Menderas

Aku berangkat kerja untuk membuat keluargaku bahagia. Sedihnya, setiap kali aku berangkat, anak-anak justru menangis.

Ada rasa bersalah yang sulit dijelaskan setiap kali melihat mereka berdiri di depan pintu, melepas kepergianku.

Aku tahu, aku bekerja untuk mereka. Untuk masa depan mereka. Untuk memastikan mereka baik-baik saja.

Sering aku bertanya-tanya: kalau kebahagiaan yang sedang aku kejar mengharuskanku terlalu sering pergi, sebenarnya apa yang sedang aku perjuangkan?

Mungkin itu sebabnya, belakangan ini aku lebih sering memikirkan tentang pulang.

Pulang bukan cuma soal kembali ke rumah. Ada sesuatu yang kita cari di sana.

Dan mungkin, di antara riuh Jakarta dan anginnya yang entah masih ada atau tidak, aku sedang mencari jalan untuk pulang.


*Ditulis di atas Sembrani, saat sahur tiba.

Senin, 13 Juli 2026

Kereta dan Kedewasaan

Dulu, aku tak pernah mempermasalahkan kereta yang tiba tengah malam. Selalu ada papa yang menjemput. Waktu itu, beliau masih cukup sehat untuk menyetir sendiri di jam berapa pun.

Sekarang, aku selalu mencari jadwal yang tiba pagi atau paling lambat sore. Kalau pun sampai rumah, rasanya lebih tenang saat tidak mengganggu waktu istirahat orang tua. 

Ternyata, menjadi dewasa kadang sesederhana berubahnya preferensi jadwal kereta. Ada rindu yang tak lagi menuntut untuk dijemput, melainkan hanya ingin memastikan mereka tetap baik-baik saja.

Dari hanya sekedar pulang, kini juga harus tahu kapan waktu terbaik untuk datang. 
Terlihat rumit.
Padahal ketika papa mama tahu, pulang kapan pun mereka tetap merasakan satu hal: senang anaknya datang. :D